21 Okt 2013

UN PASCA KONVENSI

Oleh : Ibnu Hamad Kepala Pusat Informasi dan Humas Kemdikbud Konvensi Ujian Nasional (UN) usai dilaksanakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) dari tanggal 26 sampai dengan 27 September 2013. Konvensi diikuti sekitar 300 peserta dari berbagai kalangan. Disamping perwakilan guru dan kepala sekolah jenjang pendidikan dasar dan menengah negeri dan swasta, hadir juga wakil-wakil dari lembaga swadaya masyarakat pendidikan dan masyarakat peduli pendidikan. Turut pula dalam konvensi ini para wakil dari dewan pendidikan, komite sekolah, dan asosiasi yang bergerak di bidang pendidikan. Perwakilan dinas pendidikan dan dinas agama baik di tingkat pusat, provinsi, serta kabupaten/kota juga mengikuti konvensi ini. Konvensi menyepakati bahwa UN tetap dilaksanakan, sebagai pelaksanaan satu dari dari 8 (delapan) standar pendidikan nasional, yaitu standar evaluasi. Para peserta juga sepakat bahwa penyelenggaraan UN harus kredibel, reliabel, dan akuntabel. Memenuhi Semua Aspirasi Konvensi itu sendiri dilakukan guna mengakhiri kontroversi mengenai UN. Ada kalangan yang menginginkan UN hanya untuk pemetaan bukan untuk kelulusan. Sementara kalangan lain menghendaki UN dapat digunakan untuk seleksi masuk ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, bahkan sebagai dasar untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Kontroversi itu sepertinya tak ada ujungnya. Padahal dalam Peraturan Pemerintah Nomor 32 tahun 2013 yang merupakan penyempurnaan atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, disebutkan bahwa fungsi UN itu ada empat: (a) untuk pemetaan mutu program dan/atau satuan pendidikan; (b) salah satu penentu kelulusan peserta didik dari program dan/atau satuan pendidikan; (c) dasar seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya; dan (d) bahan pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan. Dengan demikian, sesungguhnya pasal 68 PP 32/2013 tersebut telah merangkum semua aspirasi publik, baik kalangan yang menginginkan UN sebagai alat pemetaan, untuk kelulusan, untuk seleksi masuk ke jenjang pendidikan berikutnya, maupun sebagai dasar untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Pada dasarnya keempat fungsi itu juga merupakan satu kesatuan karena bersifat saling melengkapi. Lazimnya, yang namanya ujian apapun namanya tentu selalu dikaitkan dengan isu kelulusan. Kalau hanya untuk pemetaan, namanya pasti bukan ujian melainkan sensus atau survey. Sebaliknya, data untuk menentukan kelulusan dapat digunakan untuk pemetaan bahkan sebagai dasar seleksi masuk ke jenjang pendidikan di atasnya. Tentu saja data untuk kelulusan juga bisa dipakai sebagai bahan pengambilan keputusan untuk melakukan intervensi peningkatan mutu pendidikan. UN dan Mutu Pendidikan Di tengah-tengah kontroversi itu ada yang menyatakan bahwa UN tidak berhubungan dengan peningkatan mutu pendidikan. Sudah bertahun-tahun dilaksanakan UN, tapi mutu pendidikan kita selalu kalah dari negara-negara lain. Jadi mengapa harus ada UN? Awam pun tahu, UN-nya sendiri pasti tidak akan meningkatkan mutu pendidikan. UN seperti jenis evaluasi lainnya tidak langsung meningkatkan mutu. Tapi dari UN, dan jenis evaluasi lainnya, kita bisa melihat atau mengetahui kualitas pendidikan. Dari hasil evaluasi, kita selanjutnya dapat menentukan tindakan apa yang mesti dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan: apakah isi pembelajarannya yang harus diperbaiki; prosesnya; kompetensi lulusannya; pendidik dan tenaga kependidikannya; sarana dan prasarananya; pengelolaannya; ataukah pembiayaannya. Lagi pula, darimana kita tahu bahwa mutu pendidikan kita selalu kalah dari negara-negara lain? Dari hasil UN itulah kita dapat membandingkannya. Sebagai contoh, UN tahun 2012, dengan komposisi soal mudah 10%, sedang 80%, dan sukar 10%, dengan nilai rata-rata 5,5 sebagai syarat lulus, tingkat kelulusan UN kita mencapai 99,50%. Sementara, tahun 2013, dengan komposisi soal mudah 10%, sedang 70%, dan sukar 20%, dengan nilai rata-rata masih tetap 5,5 sebagai syarat lulus, tingkat kelulusan UN kita menurun sedikit 99,48%. Tampak di sana, ada penurunan sebesar 0,02% ketika ditambah 10% soal yang sukar. Bagaimana jika komposisi soal dirubah, katakanlah yang mudah 10%, sedang 40%, dan sukar 50%, dengan nilai rata-rata tetap 5,5 sebagai syarat lulus. Bagaimana pula andaikan komposisi soalnya 50% sedang dan 50% sukar, dengan nilai rata-rata tetap 7 sebagai syarat lulus? Masalahnya di sini bukan pada tingkat kelulusan yang menurun jika soal yang sukarnya ditambah; melainkan pada kemampuan para peserta UN mengerjakan soal-soal sukar tersebut. Sebab, berkaca pada negara-negara yang disebut tinggi mutu pendidikannya, kemampuan peserta didik dalam mengerjakan soal-soal yang sukar cenderung tinggi. Sebaliknya, negara-negara yang disebut rendah mutu pendidikannya, kecenderungan peserta didiknya hanya mempu mengerjakan soal-soal yang mudah bahkan di bawahnya lagi (Lihat pula Gambar 1 di bawah ini). Lantas, seperti apakah mutu peserta didik kita berdasarkan penguasaanya pada setiap mata pelajaran. Analisis terhadap hasil UN 2013 dalam bidang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) menunjukkan kemampuan yang belum terlalu tinggi, seperti tampak dalam Gambar 2. Hasil yang relatif sama juga berlaku pada analisis terhadap hasil UN 2013 dalam bidang Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) seperti ditunjukkan oleh Gambar 3. Kita (tidak) dapat membayangkan, seperti apa rupa dua gambar kompetensi di atas, seandainya komposisi soalnya bukan formula mudah 10%, sedang 70%, dan sukar 20% seperti yang dipakai dalam UN 2013. Bagaimana jika soalnya separuh sedang separuh mudah atau malahan seluruhnya sukar? Karenanya, UN bukan hanya perlu untuk pemetaan, akan tetapi lebih penting lagi sebagai dasar bagi pengambilan kebijakan untuk perbaikan mutu pendidikan. Dari Kelulusan ke Indeks Kompetensi Oleh sebab itu pula, pada tahun-tahun mendatang, isu mendasar dalam UN tidak lagi pada kelulusan akan tetapi pada indeks kompetensi sekolah bahkan kompetensi masing-masing mata pelajaran yang di-UN-kan. Boleh saja kelulusan UN sebuah sekolah mencapai 100%. Bahkan boleh saja nilai rata-rata UN-nya di atas rata-rata nasional. Tetapi, bagaimana dengan indeks kompetensi setiap mata pelajarannya? Sebagai ilustrasi, saya gunakan hasil analisis sembilan kompetensi mata pelajaran sosiologi pada SMAN 1 Babat, Kab. Lamongan, pada UN 2013. Baik diketahui, dalam UN 2013 SMAN 1 Lamongan menduduki peringkat tertinggi di tingkat nasional. Nilai akhir UN-nya melebihi rata-rata nasional. Namun, seperti apakah penguasaan para peserta didik terhadap kompetensi mata pelajarannya. Dalam Gambar 4 berikut, kami contohkan analisis kompetensi mata pelajaran Sosiologi di sekolah ini. Dengan diperolehnya data sepeti tampak dalam Gambar 4 tersebut, disimpulkan SMAN 1 Babat Lamongan adalah salah satu contoh SMA yang capaian kompetensi sekolahnya relatif tinggi berdasarkan hasil UN. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah seluruh guru mapel yang diUNkan telah bersertifikasi, dan sekolah tersebut memiliki lab yang lengkap, seperti lab. bahasa, lab. biologi, lab. kimia, dan lab. Komputer. Sedangkan untuk rekomendasinya adalah pemerintah daerah dapat menggunakan sekolah ini sebagai sekolah percontohan bagi peningkatan mutu sekolah khususnya di Provinsi Jawa Timur. Sebagai akibatnya jika tak ada UN kita tidak bisa membandingkan kualitas pendidikan dengan di negara lain, baik yang komposisi soal mudahnya lebih banyak dan syarat kelulusannya yang lebih rendah maupun dengan negara yang komposisi soal lebih sukarnya yang banyak dan syarat kelulusannya yang lebih tinggi dari negara kita. Untuk ilustrasi sekolah yang peringkat UN-nya di bawah rata-rata nasional kita ambil SMAS PGRI 28 Lubuk Pakam, Kab. Deli Serdang. Dari sembilan kompetensi pada Mapel matematika Program IPS, SMAS PGRI 28 Lubuk Pakam, Kab. Deli Serdang, Prov. Sumatera Utara, kompetensinya masih dibawah capaian Nasional, bahkan Provinsi Sumatera Utara. Untuk SMAS PGRI 28 disimpulkan merupakan salah satu contoh sekolah yang kompetensinya relatif rendah, yaitu pada mata pelajaran Bahasa Indonesia IPA/IPS, Matematika IPA, Fisika, Kimia, Biologi, Ekonomi, Sosiologi, dan Geografi. Kondisi ini terjadi antara lain disebabkan jumlah guru tidak sebanding dengan jumlah rombongan belajar (46), serta guru mata pelajaran yang di UN kan belum lengkap. Kepada SMAS ini direkomendasi untuk meningkatkan jumlah guru agar sebanding dengan rombongan belajar, serta melengkapi jumlah guru mata pelajaran yang di UN kan, melengkapi sarana dan prasarana laboratorium, serta mengikutsertakan guru dalam berbagai pelatihan terkait peningkatan kompetensi Bahasa Indonesia IPA/IPS, Matematika IPA, Fisika, Kimia, Biologi, Ekonomi, Sosiologi, dan Geografi. Penutup: Data sebagai Dasar Kebijakan Sudah semestinya Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kemdikbud memiliki analisis kompetensi setiap sekolah bahkan setiap mata pelajaran. Kita semua berhak untuk mengaksesnya. Berdasarkan data ini, setiap pihak terutama sekolah yang bersangkutan terlebih guru-guru mata pelajaran yang di-UN-kan khususnya dapat berkaca untuk memperbaiki diri guna meningkatkan mutu pendidikan. Para pemangku kepentingan pendidikan dapat menjadikan data tersebut dalam pengambilan kebijakan sesuai dengan skala prioritas yang ditunjukkan oleh hasil analisis. Dengan berbasis pada data lapangan, intervensi yang dilakukan niscaya lebih efektif dan efisien. Perlu ditambahkan di sini bahwa sekolah-sekolah yang UN-nya jujur merupakan pihak yang beruntung: karena diagnosanya tepat, maka resepnya pun akan tepat. Sebaliknya, sekolah-sekolah yang UN-nya tidak jujur akan mengalami kurugian karena tidak menunjukkan masalah yang sebenarnya sehingga intervensi kebijakannya pun tidak akan tepat. Sedangkan untuk pihak-pihak yang sementara ini keberatan dengan UN dapat pula memanfaatkan data tersebut untuk memonitor upaya peningkatan mutu pendidikan. Ketimbang mempermasalahkan aspek legal –yang dianggap telah final oleh Kemdikbud—lebih baik mereka menjadikan data hasil analisis UN sebelumnya sebagai bahan perbandingan terhadap analisis UN berikutnya: langkah-langkah perbaikan apakah yang telah ditempuh di antara dua UN dan bagaimanakah outcome-nya? Dengan cara seperti itu, insya Allah akan bermanfaat (^)

6 Mei 2013

Pembelajaran Teks dalam Kurikulum 2013

Oleh: Mahsun Kepala Badan Pegembangan dan Pembinaan Bahasa Kemdikbud Dari sudut pandang teori semiotika sosial, teks merupakan suatu proses sosial yang berorientasi pada suatu tujuan sosial. Tujuan sosial yang hendak dicapai memiliki ranah-ranah pemunculan yang disebut konteks situasi. Sementara itu, proses sosial akan berlangsung jika terdapat sarana komunikasi yang disebut bahasa. Dengan kata lain, proses sosial akan merefleksikan diri menjadi bahasa dalam konteks situasi tertentu sesuai tujuan proses sosial yang hendak dicapai. Bahasa yang muncul berdasarkan konteks situasi inilah yang menghasilkan register atau bahasa sebagai teks. Oleh karena konteks situasi pemakaian bahasa itu sangat beragam, maka akan beragam pula jenis teks. Selanjutnya, proses sosial yang berlangsung selalu memiliki muatan nilai-nilai atau norma-norma kultural. Nilai-nilai atau norma-norma kultural yang direalisasikan dalam suatu proses sosial itulah yang disebut genre. Satu genre dapat muncul dalam berbagai jenis teks. Misalnya genre cerita, di antaranya, dapat muncul dalam bentuk teks: cerita ulang, anekdot, eksemplum, dan naratif, dengan struktur teks (struktur berpikir) yang berbeda; tidak berstruktur tunggal seperti dipahami dalam kurikulum bahasa Indonesia pada KTSP, yang semua jenis teks berstruktur: pembuka, isi, dan penutup (periksa KD BI, kelas XI, semester 2, butir: 12.2). Pada jenis teks cerita ulang (recount) unsur utamanya berupa peristiwa yang di dalamnya menyangkut siapa, mengalami apa, pada waktu lampau, dengan struktur: orientasi (pengenalan pelaku, tempat, dan waktu) diikuti rekaman kejadian; pada teks anekdot, peristiwa yang terdapat pada teks cerita ulang harus menimbulkan krisis. Partisipan yang terlibat bereaksi pada peristiwa itu, sehingga teksnya berstruktur: orientasi, krisis, lalu diikuti reaksi. Berbeda dengan eksemplum, pada jenis teks ini peristiwa yang terdapat pada teks cerita ulang maupun anekdot memunculkan insiden, dan dari insiden itu muncul interpretasi (perenungan). Dengan demikian, teks jenis ini berstruktur: orientasi, insiden, lalu diikuti interpretasi. Adapun jenis teks naratif, peristiwa yang diceritakan harus memunculkan konflik antartokoh atau konflik pelaku dengan dirinya sendiri atau dengan lingkungannya. Oleh karena itu, teks naratif berstruktur: orientasi, komplikasi, dan resolusi. Setiap struktur teks dalam masing-masing jenis teks memiliki perangkat-perangkat kebahasaan yang digunakan untuk mengekspresikan pikiran yang dikehendaki dan secara terpadu diorientasikan pada pencapaian tujuan sosial teks secara menyeluruh. Untuk itu, pembicaraan ihwal satuan leksikal, gramatikal (tata bahasa) dalam pembelajaran berbasis teks harus berupa pembicaraan tentang satuan kebahasaan yang berhubungan dengan struktur berpikir yang menjadi tujuan sosial teks, bukan dalam bentuk serpihan-serpihan. Dalam teori genre, terdapat dua konteks yang melatarbelakangi kehadiran suatu teks, yaitu konteks budaya (yang di dalamnya ada nilai dan norma kultural yang akan mewejawantahkan diri melalui proses sosial) dan konteks situasi yang di dalamnya terdapat: pesan yang hendak dikomunikasikan (medan/field), pelaku yang dituju (pelibat/tenor), dan format bahasa yang digunakan untuk menyampaikan pesan itu (sarana/mode). Hadirnya konteks budaya dalam teks dapat ditunjukkan, misalnya pada teks laporan dan teks deskripsi. Kedua teks ini sama-sama dikelompokkan ke dalam genre faktual, tetapi memiliki struktur teks dan nilai/norma yang melatarbelakangi berbeda. Teks laporan berstruktur: klasifikasi umum lalu diikuti deskripsi bagian, sedangkan teks deskripsi bersruktur: deskripsi umum diikuti deskripsi bagian-bagian. Satuan leksikogramatikal yang terdapat pada teks laporan harus mendukung nilai-nilai objektif, faktual bukan opini serta bersifat generik, sedangkan pada teks deskripsi satuan leksikogramatika yang merupakan opini ataupun tanggapan yang bersifat subjektif masih dapat dimunculkan dan lebih bersifat spesifik. Itu sebabnya, dalam pembelajaran bahasa berbasis teks tidak boleh dilihat bahasa secara parsial, melainkan secara utuh. Pembelajaran bahasa berbasis teks bukanlah belajar keping-keping atau serpih-serpih tentang bahasa yang cenderung bertujuan menghafal. Pilihan pada pembelajaran bahasa berbasis teks membawa implikasi metodologis pada pembelajaran yang bertahap. Mulai dari kegiatan guru membangun konteks, dilanjutkan dengan kegiatan pemodelan, membangun teks secara bersama-sama, sampai pada membangun teks secara mandiri. Hal ini dilakukan karena teks merupakan satuan bahasa yang mengandung pikiran dengan struktur yang lengkap. Guru harus benar-benar meyakini bahwa pada akhirnya siswa mampu menyajikan teks secara mandiri. Kehadiran konteks budaya, selain konteks situasi yang melatarbelakangi lahirnya suatu teks menunjukkan adanya kesejajaran antara pembelajaran berbasis teks (konsep bahasa) dengan filosofi pengembangan Kurikulum 2013, khusunya yang terkait dengan rumusan kebutuhan kompetensi peserta didik dalam bentuk kompetensi inti (KI) atas domein sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Kompetensi inti yang menyangkut sikap, baik sikap spiritual (KI: A) maupun sikap sosial (KI: B) terkait dengan konsep kebahasaan tentang nilai, norma kultural, serta konteks sosial yang menjadi dasar terbentuknya register (bahasa sebagai teks); kompetensi inti yang menyangkut pengetahuan (KI: C) dan keterampilan (KI: D) terkait langsung dengan konsep kebahasaan yang berhubungan dengan proses sosial (genre) dan register (bahasa sebagai teks). Selain itu, antarkompetensi dasar (KD) yang dikelompokkan berdasarkan KI tersebut memiliki hubungan pendasaran satu sama lain. Ketercapaian KD dalam kelompok KI: A dan B ditentukan oleh ketercapaian KD dalam kelompok KI: C dan D. KD dalam kelompok KI: A dan B bukan untuk diajarkan melainkan implikasi dari ketercapaian KD dalam kelompok KI: C dan D. Oleh karena itu pula, mengkritisi keberadaan KD-KD dalam Kurikulum 2013, termasuk tentang Kurikulum Bahasa Indonesia secara lepas, berdiri sendiri mengakibatkan munculnya tanggapan yang menyesatkan. Jika rumusan KD tentang sikap dihubungkan dengan KD tentang pengetahuan dan keterampilan, tentu pernyataannya tentang tidak logisnya rumusan KD, dalam Kurikulum 2013, seperti dinyatakan Acep (Kompas, 18 Maret 2013), tidak akan muncul. Begitu pula jika, KD tentang pengetahuan yang dikritisi itu dihubungkan dengan KD tentang keterampilan, maka pernyataan bahwa Kurikulum 2013 hanya akan menghasilkan siswa penghafal, seperti dinyatakan Bambang (Kompas, 20 Maret 2013) tidak akan lahir. Selanjutnya, jika dibandingkan antara KD yang dirumuskan dalam Kurikulum 2013 dengan KD dalam KTSP, maka terdapat beberapa persamaan dan perbedaan yang mendasar. Persamaannya, kedua kurikulum itu menampilkan teks sebagai butir-butir KD. Sebagai contoh, dalam KTSP (2006) untuk kelas I, dan kelas IV semester 1, ditemukan KD 2.3: “Mendeskripsikan benda-benda di sekitar dan fungsi anggota tubuh dengan kalimat sederhana” dan KD 4.2: “Menulis petunjuk untuk melakukan sesuatu atau penjelasan tentang cara membuat sesuatu”. Bandingkan rumusan KD itu dengan KD dalam Kurikulum 2013 kelas 1 SD pada aspek pengetahuan: (a) KD3.1:“Mengenal Teks deskriptif tentang anggota tubuh dan panca indera …”; (b) KD 3.2: “Mengenal teks petunjuk/arahan tentang perawatan tubuh serta pemeliharaan kesehatan dan …”. Baik pada KTSP maupun pada Kurikulum 2013 teks disajikan sebagai butir-butir yang dicantumkan sebagai KD, tidak seperti yang dinyatakan Bambang. Hanya saja, pada Kurikulum 2013 dibedakan antara KD yang berhubungan dengan aspek pengetahuan, kerampilan, dan sikap. Adapun perbedaannya, KD pada KTSP masih banyak yang disusun berdasarkan pandangan linguistik struktural, misalnya: rumusan KD kelas I semester 1 berikut. KD 3.1: “Membaca nyaring suku kata, kata dengan lafal yang tepat” dan KD 3.2: “Membaca nyaring kalimat sederhana dengan lafal dan intonasi yang tepat”. Kedua rumusan KD ini mencerminkan pembelajaran kompetensi berbahasa yang bersifat struktural, dari kemampuan melafalkan unsur bahasa yang terkecil: suku kata, meningkat ke pelafalan kata, dan diteruskan ke pelafalan kalimat, bahkan sampai ke teks (cermati KD kelas II, semester 2, butir 7.1: “Membaca nyaring teks (15-20 kalimat) dengan memperhatikan lafal dan intonasi yang tepat”. Dengan mencermati KD-KD-nya, maka penyusunan kurikulum bahasa Indonesia pada KTSP dapat dikatakan dilakukan dengan setengah berlandaskan pendekatan struktural dan setengahnya lagi berlandaskan pada pendekatan teks. Bahkan masih terdapat pencampuradukan antara konsep teks dengan paragrap. Cermati KD Kelas X, semester 1: 4.2: “Menulis hasil observasi dalam bentuk paragrap deskriptif”. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kurikulum bahasa Indonesia sejak Kurikulum 1994 sampai KTSP yang didengung-dengungkan berbasis kontekstual adalah tidak sepenuhnya benar. Berbeda jauh dengan Kurikulum 2013 yang sepenuhnya berbasisi teks. ***

10 Mar 2013

SEMOGA BISA MEMBUKA MATA HATI KITA SEMUA. Ditulis oleh: Prof. Rhenald Kasali (Guru Besar FE UI) LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa. ...Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah. Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberinilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri. Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?” “Dari Indonesia,” jawab saya. Dia pun tersenyum. BUDAYA MENGHUKUM Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat. “Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak anaknya dididik di sini,” lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement! ” Dia pun melanjutkan argumentasinya. “Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya. Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita. Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor. Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah. Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti. Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan. Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian. *** Etika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi. Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan. Ada semacam balas dendam dan kecurigaan. Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak. Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan. Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal. Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.” Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif. Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda. MELAHIRKAN KEHEBATAN Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan seterusnya. Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas…; Kalau,…; Nanti,…; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah. Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh. Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh. Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh. Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti.

21 Nov 2012

Mengapresiasi profesi Guru di Hari Guru

oleh Bambang Indriyanto Peneliti pada Pusat Penelitian Kebijakan Hari Guru yang diperingati setiap tahun pda tanggal 25 November mempunyai dua makna. Pertama merupakan pengakuan terhadap profesionalisme guru. Kedua merupakan refleksi terhadap apa yang telah dicapai oleh organisasi guru dan individu guru dalam menjalankan tugasnya, sekaligus merupakan “antisipasi” terhadap langkah yang harus diambil bagi guru dan organisasi guru untuk menegaskan prefisionalisme guru ke depan. Dalam perspektif pedagogis guru merupakan suatu konsep yang menggambar sosok pribadi mulia yang menjalankan peran mengajar. Dalam tulisan ini mengajar mempunyai dua arti yaitu transferring dan transforming. Mengajar dalam arti transferring yaitu “memindahkan” informasi yang disebut ilmu pengetahuan kepada para siswa yang diajarnya, sedangkan mengajar dalam arti transforming yaitu menamkan nilai budaya positif kepada para siswa yang diajarnya. Dalam menjalankan peran kedua, guru tidak hanya mengajarkan tetapi sekaligus menjadi suri tauladan bagi siswanya. Kedua peran ini diekspresikan secara puitik dalam lirik Hymne Guru sebagai berikut: “Engkau sebagai pelita dalam kegelapan Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan” Tentunya saja kita tidak bisa, atau bahkan tidak berhak, menilai bahwa peran transfering lebih penting daripada peran transforming, atau sebaliknya peran transforming lebih penting daripada peran trasnfering. Keduanya mempunyai peran yang setara karena membentuk keseimbangan antara kompetensi nalar dan kompetensi kepribadian bagi para siswa. Keduanya terangkum dalam hasil pendidikan yang sekarang ini menjadi topik pembicaraan yaitu siswa berkarakter. Dalam konotasi guru seperti yang diketengahkan di atas, maka sosok guru tidak hanya berarti figur yang berdiri di depan ruang kelas dalam suatau lembaga yang disebut dengan sekolah, tetapi juga mereka yang melakukan fungsi mengajar meskipun tidak berada di dalam gedung sekolah. Mereka adalah tutor yang bertugas mengajar anak-anak yang terdaftar pada Kelompok Belajar (Kejar) Paket A dan B. Mereka yang mengajar anak-anak jalanan juga berhak mendapat predikat sebagai guru meskipun mereka melaksanakan tugas mengajarnya di bawah kolong jembatan. Predikat guru juga berhak disandang oleh mereka yang mengajar anak-anak dengan berkebutuhan khusus. Perbedaan konteks tempat mengajar tidak membedakan predikat mereka sebagai guru. Hal ini lain menjadikan mereka sama-sama berhak menyandang predikat sebagai guru karena dua faktor yaitu dedikasi dan profesionalisme. Dedidasi tidak hanya diukur dengan waktu yang dicurahkan untuk mengajar, tetapi pada kesetiaan mereka untuk melakukan peran mengajar. Profesionalisme secara epistimologis berarti melakukan pekerjaan sesuai dengan kriteria professi. Profesionalisme guru adalah kompentensi untuk melakukan tugas mengajar secara efektif. Dalam melakukan tugasnya guru tidak boleh membedakan siswa berdasarkan agama, suku bangsa, dan latar belakang ekonomi orang tua. Namun demikian membedakan berdasarkan minat dan bakat siswa merupakan keniscayaan bagi seorang guru untuk melakukan tugas mengajarnya. Membedakan berdasarkan minat dan bakat tidak dianggap sebagai tindakan diskrimantif. Profesionalisme jabatan guru tidak bersifat statis, tetapi dinamis. Implikasi dari hal ini adalah guru perlu senantiasa meningkatkan kompetensinya. Untuk menjaga prefisonalisme, setiap guru harus selalu mengembangkan kompetensinya. Kapan harus berhenti meningkatkan kompetensinya?. Pada saat tidak lagi menjadi guru. Pada dasarnya peningkatan kompetensi tidak ada batasnya, sepanjang masih menjadi guru, selama itu kompetensi perlu terus ditingkatkan. Jika kita menyimak media massa, terutama media cetak banyak sekali kritik dilontarkan kepada guru. Dari sudut pandang positive thinking, lontaran kritik tersebut bukan bersifat pribadi dan bukan ungkapan rasa benci, tetapi sebaliknya justru karena penghargaan terhadap profesi guru. Anggota masyarakat justru merasa bahwa peran guru yang sangat startegis untuk menghantarkan generasi sekarang ke masa depan bangsa yang lebih cermerlang. Tahun 2045 merupakan tonggak sejarah bagi bangsa Indonesia. Pada tahun itu, bangsa Indonesia tidak hanya merayakan 100 tahun terbebas dari penjajahan, tetapi Bangsa Indonesia juga dengan lantang menyatakan kemandiriannya baik secara ekonomi maupun politik. Generasi yang sekarang, terutama yang berada pada jenjang pendidikan dasar, akan menjadi generasi yang memimpin pada tahun 2045. Mereka menanti uluran tangan guru profesional untuk berdiri tegak sejajar dengan bangsa lain. Selamat ulang tahun Bapak dan Ibu guru, Jasamu tiada tara.

6 Sep 2012

Kebanyakan anak-anak yang cerdas hidup dengan otak yang bekerja cerdas dan memikirkan untuk tidak bertindak bodoh. Ini bukan sekadar soal kemampuan intelegensia, melainkan keterampilan. Penting bagi Anda untuk menghabiskan waktu sebanyak mungkin bersama mereka dan melihat dunia tempat mereka hidup. Mereka berupaya tinggal dalam lingkungan yang tepat dan menghindarkan mereka dari berbagai jenis gangguan. Berikut adalah lima perilaku penting yang dilakukan oleh anak-anak yang cerdas di luar kelas formal. 1) Mereka tidak bersekolah sebagai wisatawan. Anak-anak pintar mengambil bagian dalam kegiatan sekolah di luar kelas. Mereka menghadiri acara kampus dan mengikuti klub kampus. Sebagian besar dari kesuksesan di perguruan tinggi adalah menciptakan jaringan baru dari teman-teman, termasuk dari aktivitas acara dan klub kampus. Ini tidak berarti bahwa Anda memutus hubungan dengan teman-teman lama Anda, tetapi ini berarti memperluas jaringan Anda. Cobalah beberapa aktivitas, mulai dari pertunjukkan teater, konser, ceramah, dan acara-acara lain yang menjadi bagian dari masyarakat. 2) Anak-anak pintar tidak hanya duduk di kelas. Mereka berinteraksi di kelas, bahkan pada saat kuliah. Jika tidak dapat berinteraksi dengan guru, mereka berinteraksi dengan rekan-rekan atau bahkan dengan diri mereka sendiri, menebak apa yang guru mungkin katakan selanjutnya, mencoba menyimpulkan poin bersama-sama, mencoba membuat asosiasi dengan hal-hal lain yang mereka tahu dan pengalaman lain yang mereka miliki. Kadang-kadang itu adalah perjuangan untuk membayar perhatian di kelas, tetapi perjuangan yang juga sering mendatangkan manfaat. 3) Ketika mereka belajar, di sebagian besar waktu, mereka hanya belajar. Anak-anak cerdas ini belajar dengan tidak melakukan hal-hal lain. Katakanlah Anda memiliki lima mata pelajaran dan masing-masing membutuhkan 2 jam belajar dalam satu minggu di rumah. Mereka akan melakukannya dengan baik. Itu artinya, hanya 10 jam mereka belajar dalam seminggu dan itu efektif. Anak-anak lain sering menghabiskan waktu di antara waktu belajar, misalnya, bergosip dengan teman-teman dan menonton televisi. Anak-anak ini hanya memiliki sedikit usaha untuk konsentrasi. 4) Mereka berbicara dengan teman-teman dan keluarga tentang apa yang mereka pelajari di sekolah. Jika Anda tidak ingin menghabiskan beberapa waktu luang Anda berbicara tentang sekolah, Anda melakukan sesuatu yang salah. Akan tetapi, banyak dari kita hanya memiliki teman-teman yang tidak suka bicara tentang sekolah. Padahal, di perguruan tinggi, Anda akan menemui kebebasan untuk berbicara tentang mata kuliah dengan klub ataupun dengan profesor setelah jam kuliah usai. 5) Mereka memahami bahwa jurusan atau mata kuliah yang berbeda memerlukan cara belajar yang berbeda pula. Anak cerdas tahu setiap hal tentu saja tidak sama. Di perguruan tinggi, Anda akan perlu untuk menyesuaikan diri dengan dosen yang berbeda yang memiliki cara yang berbeda untuk menjalankan kelas mereka dan cara yang berbeda untuk mengevaluasi prestasi Anda. Hal ini juga terjadi dalam kehidupan nyata, yaitu dunia karier nantinya. Anda harus mencoba untuk menentukan bagaimana kelas dijalankan serta bagaimana Anda akan dinilai dan merencanakan Anda belajar sesuai mata kuliah yang Anda ikuti. Ada kelas ketika saya hanya harus membaca buku di kelas dan kelas saat saya harus selalu membaca sebelum mengikuti suatu kelas. Itu juga terjadi saat menghadapi guru atau dosen yang gemar memberikan tes dalam bentuk pilihan ganda atau esai. Mungkin, saat akan menjalani tes dari pengajar yang suka pilihan ganda, rajin membaca saja cukup. Namun, saat berada di kelas yang dinilai dengan esai, jangan berharap melakukannya dengan baik jika tidak rajin berdiskusi. Sumber : Psychology Today Editor : Caroline Damanik

25 Jul 2012

TUGAS PELAJARAN NORMATIF ADAPTIF ( kHUSUS PARIWISATA)

TUGAS PELAJARAN NORMATIF ADAPTIF SISWA PRAKTEK KERJA INDUSTRI SMK NEGERI 2 BATAM TP. 2012/2013 PROGRAM STUDI : PARIWISATA (UPW, HOTEL REG, HOTEL INDUSTRI, JASA BOGA) WAKTU PENUGASAN : 23 JULI S/D 28 JULI 2012 1. MATA PELAJARAN : BAHASA INDONESIA TUGAS MENGERJAKAN LEMBAR KERJA SISWA ( LKS ) MENGENAI EVALUASI KOMPETENSI I HALAMAN 11-13 :  PAKET A DAN PAKET B KETERANGAN :  LKS DAPAT DIAMBIL PADA GURU BAHASA INDONESIA MASING-MASING BERDASARKAN JADWAL PELAJARAN YANG TELAH DIBERIKAN KEPADA SISWA  LKS MERUPAKAN BANTUAN DARI R B O S TIDAK DIPUNGUT BIAYA !  JADWAL PENGAMBILAN LKS SAMPAI DENGAN TANGGAL 28 JULI 2012.  TUGAS DIKERJAKAN PADA BUKU TUGAS BAHASA INDONESIA 2. MATA PELAJARAN : PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN TUGAS MATERI : BUDAYA DEMOKRASI MENUJU MASYARAKAT MADANI HALAMAN 60 :  LATIHAN SOAL NO. 1 S/D 4  TUGAS KETERANGAN :  BAHAN BELAJAR BERUPA FOTOKOPIAN MODUL YANG DAPAT DIPERBANYAK/ DIFOTOKOPI DI KOPERASI SMK NEGERI 2 BATAM  JADWAL PENGAMBILAN FOTOKOPI MODUL SAMPAI DENGAN TANGGAL 28 JULI 2012  TUGAS DIKERJAKAN PADA KERTAS DOUBLE FOLIO NOTE : • TUGAS DIKUMPUL KEMBALI PADA TANGGAL 27 AGUSTUS S/D 1 SEPTEMBER 2012 • TUGAS DIKUMPULKAN KEPADA GURU BIDANG STUDI / WALI KELAS • MENGISI ABSENSI PENGUMPULAN TUGAS PADA GURU BIDANG STUDI/ WALI KELAS

TUGAS PELAJARAN NORMATIF DAN ADAPTIF (AKUNTANSI)

TUGAS PELAJARAN NORMATIF ADAPTIF SISWA PRAKTEK KERJA INDUSTRI SMK NEGERI 2 BATAM TP. 2012/2013 PROGRAM STUDI : AKUNTANSI WAKTU PENUGASAN : 23 JULI S/D 28 JULI 2012 1. MATA PELAJARAN : MATEMATIKA TUGAS MENGERJAKAN LEMBAR KERJA SISWA ( LKS ) MATERI BARISAN DAN DERET HALAMAN 45 :  KEGIATAN INDIVIDU NO 1 S/D 5  UJI KOMPETENSI I NO 1 S/D 5 KETERANGAN :  LKS DAPAT DIAMBIL PADA GURU MATEMATIKA MASING-MASING BERDASARKAN JADWAL PELAJARAN YANG TELAH DIBERIKAN KEPADA SISWA  LKS MERUPAKAN BANTUAN DARI R B O S TIDAK DIPUNGUT BIAYA !  JADWAL PENGAMBILAN LKS SAMPAI DENGAN TANGGAL 28 JULI 2012.  TUGAS DIKERJAKAN PADA BUKU TUGAS MATEMATIKA LENGKAP DENGAN PENYELESAIAN MASALAH 2. MATA PELAJARAN : PENJASKES TUGAS MEMBUAT PAPER (DIJILID) MENGENAI : PERATURAN DAN TEKNIK DARI LARI SAMBUNG NOTE : • TUGAS DIKUMPUL KEMBALI PADA TANGGAL 27 AGUSTUS S/D 1 SEPTEMBER 2012 • TUGAS DIKUMPULKAN KEPADA GURU BIDANG STUDI / WALI KELAS • MENGISI ABSENSI PENGUMPULAN TUGAS PADA GURU BIDANG STUDI/ WALI KELAS

Hari Pahlawan

Hari Pahlawan
10 Nopember 2010

hari pahlawan

hari pahlawan
10 nopember 2010

Perpisahan angkatan 2

Perpisahan angkatan 2
17 april 2010 smkn2 batam

Perpisahan I

Perpisahan I
Nagoya Plasa 2009